Sudah kita ketahui bersama bahwa sistem ataupun metode pembelajaran selama masa pandemi Covid-19 ini telah berubah, yakni dari sistem dan metode pembelajaran langsung menuju pembelajaran tidak langsung (online). Tentu hal ini akan memberikan dampak yang sangat terasa bagi para peserta didik dan juga para orangtua. Dimana para peserta didik tentu tidak seperti belajar disekolah, melainkan akan berhadapan dengan alat komunikasi dan penunjangnya seperti kuota internet. Begitupun juga dengan orangtua, yang pada akhirnya akan mengalami kesulitan mengajari anak-anaknya ketika dirumah, dikarenakan beragam sebab, seperti waktu yang tidak ada, bahkan tidak mengerti metode pembelajaran bagi anak-anaknya.
Tentu hal ini
akan berakibat adanya jurang pemisah yang sangat jelas, yakni tidak adanya
figur sesosok manusia mulia seperti Guru. Dimana
peran guru didalam pembelajaran sangatlah sentral, hal ini sebagaimana arti
dari guru yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantoro, dimana beliau mengartikan
Guru sebagai :
1. Ing Ngarsa Sung Tuladha, artinya seorang guru
adalah pendidik yang harus memberi teladan. Ia pantas digugu dan ditiru dalam
perkataan dan perbuatannya.
2. Ing Madya Mangun Karsa, artinya seorang guru
adalah pendidik yang selalu berada di tengah-tengah para muridnya dan
terus-menerus membangun semangat dan ide-ide mereka untuk berkarya.
3. Tut Wuri Handayani, artinya seorang guru
adalah pendidik yang terus-menerus menuntun, menopang dan menunjuk arah yang
benar bagi hidup dan karya anak-anak didiknya.
Begitulah seharusnya
peran guru yang sebenarnya, dimana guru menjadi sentral bagi sistem
pembelajaran, karena Ia digugu dan ditiru oleh para murid-muridnya. Begitupun
seorang guru selalu diposisi tengah-tengah diantara murid-muridnya, memberi
semangat, ide-ide dan kreatifitas terhadap murid-muridnya. Namun hal ini semakin
hilang ketika masa pandemi Covid-19 ini, dimana peran guru akhirnya berubah
dengan sendirinya, yakni ketika pembelajaran online, akhirnya digantikan dengan
alat komunikasi sebagai alat proses belajar.
Hal ini merupakan suatu
hal yang membingungkan bagi instansi pendidikan, dilain sisi pembelajaran
online sangatlah tidak efektif karena para siswa akhirnya tidak sepenuhnya
belajar dirumah, dan dilain sisi jika instansi sekolah tidak menugaskan para
siswanya dirumah, maka yang akan terjadi yakni semakin banyak jatuh korban
akibat penyebaran virus corona.
Namun ada hal yang
menarik, bahwa ketika selama pembelajaran online ini, maka peran guru akan
digantikan dengan “Internet”, hal ini merupakan sebuah degradasi didalam dunia
pendidikan, ataupun juga sebaliknya yakni merupakan respon dari perkembangan
zaman.
Internet menjadi
sebuah sebab degradasi didalam sistem dan dunia pendidikan, yakni seperti ditandai
oleh gejala-gejala yang akut bagi para siswa, dimana para siswa telah
mendewakan internet didalam belajarnya, sehingga sosok seorang guru seperti
hilang ditelan bumi, hasilnya para siswa malas dan enggan membaca buku pelajaran,
bahkan malas menulis, dan akhirnya tergantung pada internet. Pada dasarnya Internet
bisa melebih guru, tinggal diketik ataupun dicari semua pelajaran, maka akan
keluar semua. Namun pembelajaran budi pekerti yang diberikan oleh para guru
tentu tidak akan didapati didalam internet.
Dan juga sebaliknya,
internet merupakan sebuah respon dari perkembangan zaman. Dimana diabad ke-21
ini zaman semakin menggeliat, dengan ditandai ledakan arus teknologi dan
komunikasi yang begitu pesat. Dengan begitu internet merupakan hasil dan anak
dari globalisasi dan modernisasi tersebut. Sehingga segala macam sendi
kehidupan tidak bisa terlepas dari teknologi dan alat komunikasi. Salah satu
contohnya yakni dimana para manusia mungkin akan bisa bertahan ketika tidak
makan seharian, namun tidak mampu bertahan ataupun gelisah ketika tidak ada
handphone ditangannya. Tentu hal tersebut merupakan hasil dari ledakan
globalisasi dan modernisasi. Oleh sebab itu zaman semakin berkembang, dan
setiap zaman pastilah memiliki sejarah sendiri, dan hasil sejarah saat ini
adalah bahwa manusia akan berkembang menjadi manusia yang tidak terlepas dari
teknologi, dan bahkan tidak mungkin nantinya akan muncul manusia yang
berteknologi, yang mampu didalam tubuhnya disandikan, dan dimasukkan oleh
alat-alat teknologi yang canggih.
Untuk itu bagi para orangtua,
mereka harus melihat gejala ini sebagai sebuah tantangan dan juga kewaspadaan.
Tantangan itu yakni bahwa teknologi pada akhirnya bisa dimanfatkan kepada
hal-hal yang positif, dan menjadikan teknologi sebagai alat perekembangan
anak-anaknya, salah satunya belajar, namun juga jangan terus-menerus terlena
didalam teknologi, karena akan mengakibatkan anak menjadi penggila teknologi
dan akhirnya menjadikan teknologi sebagai garis kehidupannya, seperti halnya
anak-anak yang setiap harinya asyik dengan game dan tiktok digadgetnya.
Dan teknologi seperti
internet ini pada akhirnya bisa menjadi sebuah kewaspadaan bagi para orangtua
terhadap anak-anaknya. Karena internet memiliki arus yang buas tanpa
filterisasi dari seorang anak tersebut. Untuk itu sudah sepatutnya para
orangtua menjadi filter bagi anak-anaknya ketika internet menggeliat seperti
sekarang ini. Dan perlu digaaris bawahi bahwa internet tidak bisa menjadikan
seorang anak memiliki budi pekerti yang luhur. Untuk menjadikan seorang meiliki
budi pekerti yang luhur yakni langsung dengan didikan seorang guru dan
orangtua.
Semoga kita semua bisa
menjadikan anak-anak kita lebih baik lagi, yang menggunakan teknologi untuk
kegiatan yang bermanfaat, dan sebagai jembatan emas menuju kesuksesan.
Penulis : (Bimbel An-Nafesha)




