Selasa, 02 Maret 2021

Anak Beranjak Remaja, Lakukanlah Hal Ini


Ketika anak sudah beranjak remaja, banyak perubahan yang tidak hanya dialami oleh anak. Orang tua pun ikut mengalami perubahan. Dari yang tadinya Bunda masih bisa peluk-peluk anak didepan umum, sekarang anak sudah tidak mau lagi dipeluk. Emosi mereka pun selalu berubah. Jadi cara untuk menghadapi mereka juga berbeda.

Menurut Psikolog, Ayoe Sutomo, anak mulai menginjak remaja ketika usia 10 tahun. Tapi, itu masih masih masa remaja awal. Nah, biasanya anak akan banyak mengalami masalah-masalah pubertas di usia 13-15 tahun. Kata Ayoe, baiknya orang tua tidak melewatkan masa-masa krusial yang dialami anak dimasa remaja ini. Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan Bunda dan Ayah ketika anak mulai beranjak remaja :

1. Pahami Kondisi Remaja

Hal pertama yang perlu dilakukan orang tua saat anak beranjak remaja adalah memahami bahwa masa remaja adalah masa 'badai' untuk anak. Mereka melalui berbagai tantangan dimasa ini. Pahami juga perubahan mood remaja. Ketika terjadi perubahan emosi, Bunda dan Ayah sudah bisa memaklumi kondisi tersebut.

"Jadi, kalau anaknya moody, kemudian marah-marah terus, pahami bahwa itu adalah perubahan hormon yang terjadi. Jadi kondisi itu tidak sepenuhnya salah anak," ujar Ayoe baru-baru ini.

2. Jadikan Anak Sebagai Teman

Berusahalah menjadi teman untuk anak, dan menjadi bagian dari hidup anak. Bisa dengan cara mendengarkan ceritanya tentang apapun yang dia alami disekolah atau dilingkungan teman-temannya. Mungkin juga dengan meminta pendapat anak ketika Bunda dan Ayah akan membuat keputusan. Dengan begini, anak akan merasa keberadaan mereka berarti.

3. Hargai Privasi Anak

Kata Ayoe, anak yang menginjak usia remaja sudah memiliki privasi sendiri, baik dimedia sosial atau dunia nyata. Mereka membutuhkan kedekatan dengan teman-teman dan lingkungan. Jadi, Bunda dan Ayah sekadar memantau pertemanan anak tanpa ikut-ikut didalamnya.

Ayoe menyarankan, untuk menjaga privasi anak dimedia sosial, orang tua tetap boleh mem-follow akun media sosial anak, dan bilang bahwa Bunda dan Ayah follow media sosial mereka. Tapi hanya menjadi 'Silent Followers'. Tidak boleh ikut-ikutan komentar bareng teman-teman anak. Kalau Bunda dan Ayah ingin menanyakan sesuatu, jangan sampaikan dikolom komentar dimedia sosialnya. Tanyakan saja secara langsung supaya anak tetap merasa dihargai privasinya.

"Orang tua tidak boleh ikutan nimbrung komen di situ. Kadang kala itu membuat anak risi. Akhirnya, anak mebuat alter account. Akun lain yang tidak ada orang tuanya. Kalau memang mau jadi followes, ya sudah follow, dan bilang sama anaknya. Tapi ya itu, hargai privasi anak. Justru orang tua akan menjadi teman yang baik, bisa update," papar Ayoe.

Ketika anak beranjak remaja, orang tua tidak lagi menjadi pelindung untuk anak. Bunda dan Ayah justru berganti peran menjadi teman dan sahabat yang baik untuk remaja. Sehingga, anak bisa menceritakan apapun pada orang tuanya tanpa canggung dan ragu. Jadi, Bunda dan Ayah tetap bisa mengetahui kondisi anak. 

Sumber : www.haibunda.com


Senin, 01 Maret 2021

Bagaimana Cara Merubah Perilaku Anak ?

 

Mudah untuk menyalahkan anak dan memarahinya ketika ia berbuat salah. Tapi apakah Anda berpikir bahwa anak mungkin saja merasa tersakiti karenanya ? Terkadang, anak berperilaku buruk bukan karena ia buruk. Ada kalanya ia sedang mencari perhatian Anda. Karena bentuk komunikasi itulah yang ia tahu. 

Namun, karena dorongan emosi, Anda pun merasa jengkel. Ada pula yang berteriak-teriak marah. Bahkan, tak sedikit pula yang kemudian membiarkan anak dengan perilaku buruknya, dengan asumsi nanti jika ia dewasa kelak, akan mengerti dan berubah dengan sendirinya. Inilah yang berbahaya.

Biar bagaimana pun pendidikan tentang budi pekerti penting untuk ditanamkan sejak dini, yang meliputi proses latihan terus-menerus, sehingga ketika anak dewasa, kepribadiannya sudah terbentuk berkat kebiasaan-kebiasaan baik yang Anda sebagai orang tuanya telah tanamkan.

Terkait dengan membentuk kepribadian anak, konsultan parenting di Los Angeles, AS, Bernard Percy, mengatakan: 

"Jika Anda berfokus pada apa yang anak lakukan salah, dia akan menolak, yang mengarah pada argumen dan perilaku buruk." Lantas, saran apa yang dapat Anda kembangkan untuk mengatasi perilaku negatif anak dan mengubahnya menjadi sesuatu yang positif ?

1. Jangan bereaksi

Kesalahan yang kerap dilakukan orang tua adalah menanggapi perilaku buruk. Ini dikatakan Ed Christophersen, Ph.D, psikolog di Rumah Sakit Anak, di Kansas City, AS. Maka ia menyarankan jika jika ada anak yang merengek meminta sesuatu di toko mainan atau membuat kegaduhan di rumah, sebaiknya Anda berpura-pura tidak melihat atau tidak mendengar.

Tantangannya adalah anak mungkin akan berteriak keras, bahkan kemarahannya naik level menjadi mengamuk, karena tidak berhasil memancing perhatian Anda. Tapi justru inilah kuncinya. Ketika Anda berhasil untuk tidak bereaksi, rengekan itu akan kehilangan energi dengan sendirinya.

2. Bicara bersama

Saat anak sudah tenang, ajak ia duduk bersama. Kemudian jelaskan mengapa perilakunya salah dan perilaku seperti apa yang Anda harapkan darinya. Mungkin untuk kali pertama, si kecil akan tidak sepenuhnya memahami. Namun, proses ini tetap penting karena mencakup penanaman nilai dan aturan dalam keluarga supaya anak menjadi lebih baik lagi.

3. Konsisten

Suasana hati kadang memengaruhi sikap Anda pada anak. Ini salah satu yang dapat menimbulkan tidak konsisten dalam menerapkan aturan yang seharusnya dipatuhi tanpa kompromi. Sekali Anda mengatakan pada anak untuk pergi tidur jam 9 malam, seterusnya akan begitu. Jika anak melihat bentuk pelanggaran dilakukan oleh orang tuanya, jangan heran jika ini terekam sebagai contoh dalam otak anak.

4. Tidak instan

Perilaku baik pada anak tidak melibatkan proses yang instan. Diperlukan penanaman nilai-nilai beserta aturan-aturan yang berkelanjutan sejak ia kecil. Maka itu, Anda pun jangan pernah bosan untuk mengarahkan anak dengan menunjukkan contoh-contoh perilaku baik yang Anda inginkan juga dilakukan anak.

5. Hindari kekerasan fisik

Selain menimbulkan trauma, hukuman fisik juga dapat menghalangi anak untuk berperilaku lebih baik. Anda boleh keras. Tapi dari segi aturan. Kedisiplinan yang Anda terapkan adalah untuk menunjukkan pada anak mana perilaku baik dan buruk. Bukan justru membuat anak semakin terpuruk karena mendapat hukuman yang membuat ia tersakiti.


Anak Beranjak Remaja, Lakukanlah Hal Ini

Ketika anak sudah beranjak remaja, banyak perubahan yang tidak hanya dialami oleh anak. Orang tua pun ikut mengalami perubahan. Dari yang ta...